Entry: Cinta itu... Tuesday, February 27



Bandung, 20 February 2007

Di kamer gw

Jam 19.39 malem

 

Hari ini di pikiran gw muncul satu pernyataan yang—menurut perspektif gw yang egois—sangat brilliant. Pernyataan itu berbunyi sebagai berikut: “ternyata ada beberapa cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk menghilang dari perasaan kita, tetapi tetap tidak bisa kita pegang.” Sebenernya pernyataan ini klise banget bahwa kita harus memahami bahwa tidak semua cinta itu harus dimiliki.

 

Cinta yang gw miliki saat ini berbeda dengan cinta-cinta yang gw rasakan saat dulu. Dan kalau dipikir-pikir gw masih mencintai orang-orang itu. Kok “orang-orang”? Hmm…karena ada 2 orang dari masa lalu gw yang pernah dan—sampai sekarang—masih gw (anggap aja) cinta.

 

Sebutlah itu obsesi atau khayalan gw doang. Tapi beberapa saat yang lalu gw bertemu dengan kedua orang itu (dalam tempat dan waktu yang berbeda), cinta yang dulu gw pikir gw rasain, ternyata masih terasa di sini, di dada ini (ya iyalah, masa di dengkul!). Walau sekarang ternyata gw memandangnya dengan cara yang berbeda.

 

Gw melihat mereka sebagai orang-orang yang pernah berjasa membuat gw jadi diri gw sekarang ini (yang sangat tidak membanggakan, tetapi cukup membuat gw puas--kadang-kadang!), orang yang pernah mendapat tempat teristimewa dalam hari-hari gw (ps: kedua orang itu belum pernah jadi pacar gw, lho!). Mereka itu yang ngebuat gw punya kenangan di masa-masa SMA (di Aceh dan di Bandung). Mereka itu yang ngebuat gw ngerasa jadi ngehargain apa yang gw miliki saat ini. Mereka yang ngajarin gw, bahwa jika gw menyayangi—mencintai, atau apa pun lah namanya itu—gw harus mengatakannya tanpa ragu-ragu, bahwa gw harus jujur pada diri gw sendiri maupun pada orang lain (betapa pun menyakitkannya), bahwa gw harus bersikap apa adanya (terserah orang mau menerimanya atau ngga). Dan yang terpenting adalah cinta-cinta itu mengajarkan bahwa gw harus mengesampingkan sikap egois gw, bahwa “ternyata ada beberapa cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk menghilang dari perasaan kita, tetapi tetap tidak bisa kita pegang. Tapi yang terpenting lagi adalah untuk menghargai cinta yang dapat kita pegang, walaupun ternyata cinta itu sebegitu menyakitkannya.”

 

Love,

 

 

Nad

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments