Natnat (a.k.a nana a.k.a nadya a.k.a nejha) itu orang Indonesia yang gak jelas suku bangsanya.
Sering pake bahasa campur aduk gak karuan yang merupakan campuran bahasa Indonesia, bahasa sunda, bahasa gaul, dan bahasa prokem.
Lahir di suatu dusun di Ciamis, dan tidak pernah mengenal tanah kelahiran.
Tumbuh dan berkembang di Banda Aceh, dan Bandung. Ngaku-ngaku punya hubungan darah sama Raja-raja jaman dahulu kala dari Pontianak dan Garut.
Pernah kuliah di salah satu universitas swasta terkenal se-Bandung.
Punya seorang ayah, seorang ibu, dan seorang kakak lelaki.
Nat itu seorang cewek yang lagi pusing bin lieur bin dizzy, yang hidup di dunia yang berantakan.
Kalo mau kenalan, mau ngehina, mau ngasih masukan ke cewek ini, silahkan e-mail ke sini[cewek berantakan]



   

<< February 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28

Quotes of the Month

"As women, our historical role has been to clean up the mess. Whether it's the mess left by war or death or children or sickness...we know that life is messy." (Marsha Norman)




Tempat yang paling berantakan

  • My Bookshelf
  • Maca
  • Minna No Uchi
  • School of Thoughts

  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Tuesday, February 27
    Cinta itu...

    Bandung, 20 February 2007

    Di kamer gw

    Jam 19.39 malem

     

    Hari ini di pikiran gw muncul satu pernyataan yang—menurut perspektif gw yang egois—sangat brilliant. Pernyataan itu berbunyi sebagai berikut: “ternyata ada beberapa cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk menghilang dari perasaan kita, tetapi tetap tidak bisa kita pegang.” Sebenernya pernyataan ini klise banget bahwa kita harus memahami bahwa tidak semua cinta itu harus dimiliki.

     

    Cinta yang gw miliki saat ini berbeda dengan cinta-cinta yang gw rasakan saat dulu. Dan kalau dipikir-pikir gw masih mencintai orang-orang itu. Kok “orang-orang”? Hmm…karena ada 2 orang dari masa lalu gw yang pernah dan—sampai sekarang—masih gw (anggap aja) cinta.

     

    Sebutlah itu obsesi atau khayalan gw doang. Tapi beberapa saat yang lalu gw bertemu dengan kedua orang itu (dalam tempat dan waktu yang berbeda), cinta yang dulu gw pikir gw rasain, ternyata masih terasa di sini, di dada ini (ya iyalah, masa di dengkul!). Walau sekarang ternyata gw memandangnya dengan cara yang berbeda.

     

    Gw melihat mereka sebagai orang-orang yang pernah berjasa membuat gw jadi diri gw sekarang ini (yang sangat tidak membanggakan, tetapi cukup membuat gw puas--kadang-kadang!), orang yang pernah mendapat tempat teristimewa dalam hari-hari gw (ps: kedua orang itu belum pernah jadi pacar gw, lho!). Mereka itu yang ngebuat gw punya kenangan di masa-masa SMA (di Aceh dan di Bandung). Mereka itu yang ngebuat gw ngerasa jadi ngehargain apa yang gw miliki saat ini. Mereka yang ngajarin gw, bahwa jika gw menyayangi—mencintai, atau apa pun lah namanya itu—gw harus mengatakannya tanpa ragu-ragu, bahwa gw harus jujur pada diri gw sendiri maupun pada orang lain (betapa pun menyakitkannya), bahwa gw harus bersikap apa adanya (terserah orang mau menerimanya atau ngga). Dan yang terpenting adalah cinta-cinta itu mengajarkan bahwa gw harus mengesampingkan sikap egois gw, bahwa “ternyata ada beberapa cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk menghilang dari perasaan kita, tetapi tetap tidak bisa kita pegang. Tapi yang terpenting lagi adalah untuk menghargai cinta yang dapat kita pegang, walaupun ternyata cinta itu sebegitu menyakitkannya.”

     

    Love,

     

     

    Nad

     


    Posted at 01:51 by nanathea

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry